RSS Feed
Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

Artikel Terbaru
Komentar Terbaru

WELCOME

PARIWISATA
image

GO JATENG 2013

INFO REDAKSI
image

Pimred Koran Suara Rakyat

ANDI TRIS SN


Silahkan Hubungi Kami
Kategori
Arsip
SAIKI JAM

HOBBY

SINGOTORO JEEP CLUB

Pahlawanku Tirto Adhi Soerjo PENERBIT KORAN PERTAMA DI INDONESIA

image

Ketika kita mendengar nama Tirto Adisurjo (TAS), banyak diantara kita yang masih mengerutkan kening karena tidak mengenalnya. Namun papabila disebutkan nama Minke, tokoh utama dalam novel tetralogi karya Pramoedya Ananta Toer, tentu sungguh memalukan kalau kita tak mengenalnya. Ketahuilah, sungguhnya tokoh Minke dalam Novel tersebut adalah Tirto Adisurjo itu sendiri. Dialah tokoh pers nasional sekaligus pejuang yang pertama berani menerbitkan Koran dari kalangan pribumi.

Pengasingan dan pembuangan bukanlah hal baru dalam hidup TAS. Pena tajam dan lugas kerap menjadikan dirinya sebagai kerikil tajam oleh pemerintahan kolonial Belanda kala itu. Kepiawaian dan keberanian tanpa tedeng aling-aling yang menggugah dan mendapat simpati publik.

Menurut catatan Dr. Rinkes, Medan Prijaji diminati oleh masyarakat karena dalam salah satu rubrik terdapat penyuluhan hukum gratis. Simpati pun datang melimpah dari masyarakat hingga pada tahun ketiga tepatnya Rebo 5 Oktober 1910, Medan Prijaji berubah menjadi harian dengan 2000 pelanggan.

Medan Prijaji merupakan Koran pertama di Indonesia dibawah naungan TAS. Koran ini dianggap sebagai Koran pertama di Indonesia. Koran pertama ini disebabkan hampir seluruh karyawan Medan Prijaji adalah Boemi Poetra atau penduduk Indonesia dengan menggunakan bahasa melayu.

Koran yang berpusat di kota Bandung ini memposisikan diri sebagai corong suara publik dengan moto “Orgaan Boeat bangsa jang terperentah di H.O. tempat akan memboeka swaranya anak-Hindia” salah satu moto yang dianggap berani dan membentuk opini umum.

Tulisan-tulisan TAS yang begitu berani langsung menuding muka orang. Tak ada bijakan kolonial yang dianggap memberatkan rakyat luput dari penanya. Koran ini benar-benar menjadi ajang”perkelahian” dibeberapa daerah seperti Banten, Rembang, Cilacap, Bandung. Tulisan-tulisannya kerap diperkaarakan oleh ppihak yang merasa disudutkan dari pemberitaannya.

Salah satu kasus dari sekian banyak tulisan di muat pada Medan Prijaji No. 19-1909 mendappat dukungan 236 warga desa Bapangan Purworejo yang pasng badan. Pada gilirannya tulisan ini memuat TAS dibuang selama 2 bulan di Lampung. Kasus ini kemudian mendapat perhatian pers Belanda.

Kasus pemula ketika ada indikasi penyalahgunaan kewenangan antara Aspirant Controleur Purworejo A Simon dengan wedana Tjorosentono. Kedua pejabat itu dituduh karena mengangkat lurah bapangan yang tidak mendapat dukungan suara. Sementara kandidat pertama yang didukung , Mas Soerodimedjo, malah ditangkap dan dikenakan hukuman.

Pada tulisan itu TAS memperolok kedua pejabat itu dengan sebutan monyet penetek atau ingusan. Tulisan itu merupakan wujud kesalahan TAS yang melihat peristiwa atau kebijakan yang dianggap merugikan publik.

Perhatian tak henti-henti menyuarakan peristiw atau kebijakan yang dianggap merugikan publik dan sikapnya yang selalu membela kawula (masyarakat kecil) melalui bentuk investivigasi reporting. Model pembelaan terhadap kasus yang memuat dalam Medan Prijaji ini pada perkembangan jurnalistik disebut sebagai jurnalistik advokasi.

Tokoh pejuang ini menginspirasi sastrawan besar indonesia Pramoedya Ananta Toer yang   dituliskannya pada novel Tralogi dan Sang Pemula. Pada novel Tralogi, TAS digambarkan sebagai tokoh Minke yang memiliki peranan pada masa-masa awal pembangkitan  nasional dengan membangun organisasi dan pers.

Keberanian itu tercatat dalam buku Sekilas Pejuangan Surat kabar yang terbit pada tahun 1985. Sudarjo Tjokosisworo dalam tulisannya menyatakan bahwa TAS merupakan wartawan Indonesia pertama yang menggunakan surat kabar sebagai pembentuk pendapat umum. Kacaman dan kritik pedas menghantarkan TAS “disingkirkan” dari pulau jawa menuju Pulau Bacan dekat Halmahera (Maluku Utara).

Ki Hajar Dewantara yang notabene seorang pahlawan pendidikan nasional dalam buku kenangan-kenangan pada tahun 1952 mengatakan bahwa TAS merupakan wartawan modern yang menarik perhatian karena lancar tajam penanya. Bekas murid stovia yang waktu itu bekerja sebagai redaktur harian Bintang Betawi kemudian bernama Berita Betawi Pada akhirnya memimpin Koran Medan Prijaji.

Takashi Shiraisi dalam buku Zaman berherak mengatakan seorang TAS merupakan salah orang yang memenuhi isi catatan terutama dari laporan DR Rinkes. Hal ini diakibatkan karena TAS memiliki banyak peranan dalam pembentukan Serikat Dagang Islam di Surakarta bernama Haji Samanhudi.

Pengakuan terhadap kiprah tokoh ini kemudian dikukuhkan pada tanggal 3 November 2006 dengan gelar pahlawan Nasional melalui Keppres RI NO 85/TK/2006, sementara pada tahun 1973 tokoh ini dikukuhkan sebagai Pahlawan Pers Nasional.

Nah, tambah lagi satu pengetahuan kit atentang pahlawan di Indonesia. Jangan lupa ya, “ bangsa yang benar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya ”…

Tue, 5 Jun 2012 @05:49

Copyright © 2014 PCD TECH · All Rights Reserved