RSS Feed
Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

Artikel Terbaru
Komentar Terbaru

WELCOME

PARIWISATA
image

GO JATENG 2013

INFO REDAKSI
image

Pimred Koran Suara Rakyat

ANDI TRIS SN


Silahkan Hubungi Kami
Kategori
Arsip
SAIKI JAM

HOBBY

SINGOTORO JEEP CLUB

Layanan Total, RSUD Kelet Jepara

image

Jepara,KSR.COM _RS Kelet diresmikan pendiriannya pada tanggal 30 April 1915 oleh Zending untuk kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat sekitarnya dan dan statusnya sebagai rumah sakit umum. Lokasinya berada di desa Kelet dengan areal seluas 25 hektar. Tanah seluas itu digunakan untuk Rumah Sakit, Gereja, juga untuk Pasar Kelet.

Sekarang tanah RS Kelet tersebut peruntukannya (given) berkembang untuk Balai Desa Kelet, SMA Bopkri, SDN Kampus Kelet dan pemukiman pegawai RS Kelet dan pada awalnya dikelola oleh Dr. Gramberg, pada ulang tahun ke 20 Ratu Belanda, sebagai hadiah dibangunlah RS Donorojo untuk pelayanan pasien kusta dan diresmikan pada 30 April 1916 pada areal seluas 180 hektar. Lokasinya di Dusun Donorojo Desa Banyumanis.

Kedua RS tersebut dikelola oleh Zending dan pada perkembangan selanjutnya, keduanya dijadikan sebagai RS Kusta dengan satu manajemen. Sebelum kemerdekaan RI sampai perang kemerdekaan, RS Kelet dan Donorojo dikelola oleh dr GH Rehatta, kemudian dilanjutkan oleh dr Aminuddin.

Akhir tahun 1970an Rs Kelet/Donorojo menjadi bagian dari RS Kusta Tugurejo Semarang karena kedudukan Direktur berdomisili di Semarang dan tidak ada dokter yang mengelola secara purna waktu (full time). Tahun 1977-1970 ada dr Ingga Wijaya yang mengelola dengan direktu di RS Kusta Tugurejo. Sejak itu sampai tahun 1999 tidak ada dokter yang mengelola RS Kelet/Donorojo, hanya dikunjungi seminggu sekali oleh dokter dari RS Tugurejo Semarang.

Sehingga perkembangan RS Kelet/Donorojo tidak mempunyai fasilitasi selayaknya sebuah rumah sakit, hanya sebagai tempat perawatan dan penampungan pasien kusta. Pada posisi tahun 1999, SDM yang ada di RS Kelet/Donorojo sebanyak 60 pegawai dengan komposisi 3 orang perawat, sisanya tenaga umum dengan pendidikan, 5 orang pendidikan SMA, sisanaya lulusan SMP dan SD. Tidak mempunyai alat medis selain stetoskop, tensi meter dan timbangan badan.

Panggilan Moral.

Setelah melakukan penugasan di berbagai pelosok nusantara dan menjalankan wajib kerja sarjana di Lampung, tahun 1999 saya mendapat penugasan di RS Kelet/Donorojo. Setengah tahun masa penugasan di RS Kelet/Donorojo saya merenung, bagaimana cara membangun dan mengembangakan RS Kelet/Donorojo. Meskipun saya secara struktural organisasi masih nginduk di RS Kusta Tugurejo Semarang, sehingga saya tidak mempunyai kewenanga. Dalam hati saya mengangkat diri sendiri sebagai pemimpin informal dalam konteks struktur organisasi.

                 Dengan perkembangan ini, maka saya bisa membuat analisa waktu yang bisa saya gambarkan sebagai berikut : a. Posisi dan Aksesibilitas. Posisi RS Kelet dan Donorojoyang berada di sisi utara pegunungan Muria dan dibagian lainnya berbatasan dengan laut jawa dan akses untuk mencapainya memerlukan effort tersendiri, terutama untuk pasien kusta yan sebagian besar dari ekonomi yang kurang.

Lalu lintas dan modal transportasi terbatas, apalagi jika malam harus melalui hutan. Jadi posisi dan aksesibilitas tidak menguntungkan. b. SDM. Dalam pendahuluan sudah digambarkan komposisi SDM yang ada jika dianalisa dengan syarat SDM yang seharusnya sangat tidak memadai. Terlebih belum ada best practices yang dikembangkan. Kesimpulan SDM kurang dari segi kuantitas dan kualitas. c. Peralatan Medis.

Sangat kurang dan tidak memadai. d. Produk dan Layanan. Meskipun RS Kusta yang diandaikan sebagai RS rujukan kusta pun, RS Kelet/Donorojo belum mempunyai instalasi selayaknya RS. Karena tidak mempunyai poliklinik rawat jalan, tidak ada laboratorium, tidak ada radiologi, tidak ada ruang bedah, tidak ada UGD.

Jika dianalisa dengan analisa SWOT, masuk kwadran yang seharusnya dilikuidasi. Tetapi jika dilihat perspektifyan lebih kedepan, misalnya RS Kusta Tugurejo Semarang mulai dikembangkan sebagai RS umum, meskipun prevalensi kusta di Jawa Tengah sudah dibawah 1 permil yang diasumsikan secara epidemiologi sudah tidak menjadi masalah kesehatan. Tetapi angka penemuan pasien baru masih diatas 100 setiap tahunnya, masih 13%, angka itu terjadi pada anak, angka kecacatan II masih 14%. Masih ada 11-13 kabupaten kota di Jawa Tengah yang masih high endemis kusta terutama di wilayah Pantura Jawa Tenga. Sehingga keberadaan RS Kusta sangat diperlukan meskipun dari analisa diatas RS Kelet/Donorojo secara kapasitas sebagai RS sangan tidak memadai.

Langkah awal penataan fungsi tahun 2000, pasien kusta (pasien leproseri adalah pasien yang tinggal di RS seumur hidup karena cacat atau tidak diterima keluarga atau lingkungannya karena stigma kusta) yang ada di RS Kelet dipindahkan ke RS Donorojo untuk pengelompokan jenis layanan dan memang jumlahnya sudah mulai menurun.

Rekruitmen tenaga medis dan paramedis Tidak gampang unutk rekruitmen tenaga medis pada awalnya karena kurang menantang dan tidak ada gula-gulanya. Tetapi berangsur-angsur ada yang mau. Awalnya dr Bambang Santoso, kemudian dr Aleks Jusran, dr Cendono yang sekarang mengambil spesialis bedah, dr Anang Murdiatmoko yang sekarang mengambil spesialis penyakit dalam, dr Agung, dr. Budiono sekarang kasi pelayanan khusus, dr Arif, dr Kurmin Hadi, dr Ita dan banyak tenaga paramedis lainnya.

Koordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah unutk pelatihan keterampilan perawatan kusta dan sinkronisasi dengan program kusta Jawa Tengah dibantu juga Nederland Leprosy Release (NLR, NGO dari Belanda yang membantu dalam pelayanan pasien kusta). Pelatihan bedah rekrontruksi kusta dibantu dari RS Kusta Sumber Glagah Mojokerto Jawa Timur. Pelatihan tenaga medis serta penunjang lainnya juga dilakukan di RS Kusta Daya Makasar dan RS Kusta Sungai Kondur Palembang serta di RS Kusta Sumber Glagah Mojokerto. Selain meningkatkan kapasitas kapabilitas pelayanan kusta di Donorojo, juga ditata dan dirintis RS Kelet untuk pelayanan pasien umum, keduanya dilakukan secara pararel.   

Merenung tentang strategi

Jika dilihat dari posisi dan aksesibilitas serta produk, jelas RS Kelet/Donorojo bukan menjadi rekomendasi untuk pasien memilih layanannya. Jika dilihat dari hinterland serta jumlahnya penduduk serta struktur perekonomian masyarakat sekitar, dari aspek ability to pay juga harus dipillih strategi yang extraordinary tanpa melakukan persaingan dengan RS sekitar, misalnya RSUD Kartini Jepara. Pilihannya adalah strategi Blue Ocean, harus produk lain yang merupakan inovasi.

Langkah awal yang diambil adalah membangun awareness masyarakat wilayah penyangga tentang keberadaan RS Kelet/Donorojo yang masih kuat stigma kustanya. Tahun 2003, terlahir konsep pengembangan wilayah Bangkemling (Bangsri, Kembang, Keling) sebagai strategi Eko Region, strategi ini sebagai strategi melingkar. Strategi awal yang paling mudah dicerna masyarakat adalah tentang wisata, karena ada beberapa obyek wisata di wilayah kawasan Bangkemling, sebagai contoh Benteng Portugis, petilasan Ratu Kalinyamat, air terjun Songgo Langit, Wihara Senggrong, Desa Tempur dileren Muria dll. Dengan ide RS Kelet sebagai terminal wisatanya, karena destinasi wisata yang ada kurang kuat story tellingnya.

Selain menata RS Kelet sebagai tempat pelayanan pasien umum dan sudah tersedia instalasi cukup lengkap yaitu, IGD, laboratoruim, radiologi, gisi, ruang bedah, poliklinik, rehab medic, HND, kebidanan, rawat inap dengan dokter full time maupun dolter mitra, juga melengkapi instalasi di Donorojo sebagai tempat pelayanan pasien kusta. Instalasi yang sudah tersedia di IGD, poliklinik, laboratorium dan radiologi masih ada kendala listrik yang satu phase, unit fisiotrapi, unit prothese, rawat inap yang diathun 2012 akan dibangun tempat perawatan yang lebih memadai juga gedung prothese yang lebih standar. Serta sudah dirilis unit Vocational Training sebagai center of excellence selain bedah rekontruksi.

Melihat semangat teman-teman dalam pelayanan tersebut, pada tahun 2006 RS Kelet/Donorojo secara organisasi dipisah dari RS Tugurejo Semarang, dan sejak itu menjadi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Provinsi Jawa Tengah. Dan saya diberi amanah sebagai Direktur utama sejak RS Kelet memiliki SOTK tersendiri.

Langkah selanjutnya adalah menyusun budaya kerja (adaptasi dari Telkom Way 135, Commited to You) untuk menyatukan langkah organisasi dengan The Kelet Way 137 dengan satu peneguhan hati yaitu Care to You, 3 menata piker yaitu people competence, service excellence dan costumer value, 7 menyelaraskan langkah yaitu strech the goal, self discipline, simplify, involve everyone, quality is my job, innovation and creativity serta reward the winner. Budaya ini saya adaptai dari buday kerja di PT Telkom, Steve Pavlina dan Peter Fisk dengan genius marketingnya.

Budaya kerja ini saya dorong supaya terjadi lompatan kuantum dalam adaptasi kompetisi era sekarang, meskipun kami masih relative baru dan posisi yang tidak terlalu menguntungkan. dalam pelaksanaan budaya kerja The Kelet Way 137, dinaungi konsep berpikirnya organisasi pembelajarannya Peter Senge dengan The Fifth Discipline (system thinking, personal mastery, mental model, share vision and learning organization). Dalam dokumen Renstra saya sampaikan strategi 4 dengan 4 area sasaran yang ingin dicapai dilevel kabupaten, provinsi, nasional dan regional/mondial yang saya rancang dalam kurun waktu 20-25 tahun kedepan.

Visi RS Kelet adalah Pusat Pengembangan Complementay and Alternative Medicine Indonesia 2020 dengan dukungan pengembangan Wisata Herbal (Dual System Hospital Supporting Herbal Tourism Area). Visi RS Donorojo adalah adalah Rujukan Kusta Jawa Tengah dengan unggulan bedah rekonstruksi dan vocational training dengan dukungan pengembangan wisata Guamanik (Leprosy Center Based on Research Supporting Guamanik Pecatu Park).

Memperkuat Branding (strategi akselerasi), dengan tetap memperkuat kapasitas dan kapabilitas RS Kelet dengan strategi Cam nya dan RS Donorojo sebagai rujukan kusta Jawa Tengah, saya mencetuskan strategi branding agar Negara yang maju pasti kewirausahaannya kuta, sedang diakselerasi penguatan sebagai pabrik kreativitas Legacy (Gaman Pusoko Jaman).

Strategi DNA, strategi budaya, strategi local wisdom quick winnya, dengan strategi legacy masyarakat Jepara dengan sejarah Ratu Shima, Ratu Kalinyamat dan Kartini serta kerajaan Panjangnya mewariskan DNA keunggulan. Secara antropologi, peradaban masa silam mengilhami langkah ke masa depan. Saya langsung ke action menjadi strategi budaya. Ada music keroncong Widya Irama, kuda kepang ketoprak, panggung budaya setiap malam minggu. Masyarakat yang sehat pasti mempunyai budaya yang sehat dan bisa mengapresiasi budaya dengan santun.

Strategi ini saya susun sebagai solusi lemahnya aspek place (letak atau posisi RS) dan aspek aksesbilitas serta untuk menghilangkanstigma kusta. Saya membayangkan wilayah Bangkemling menjadi oase dalam memahami sehat yang komprehensif. Menjadi rumah sakit di desa yang keren produk layanannya dan inovatif, juga teman-teman yang dipelayanan Kusta Donorojo juga bangga dan keren sebagai pelayanan pasien kusta.

Strategi terkini yang saya adopsi adalah Sustainable Communitynya Mark Rosland yang diwilayah Bangkemling saya dekati dengan 3 aspek yaitu WAS (Wisata Alam Sehat), Aspek Environment, Tourism n Health. Tampaknya sudah mulai say lanjutkan juga di kawasan Rawapening denga strategi Legacy : Lake (aspek ekosistem danau), Economic (aspek ekonomi), Government Role (aspek regulasi), Artificial Building (aspek arsitektural dan building), Community (aspek sosiologi), Yearn for Connection (ini yang menarik, yaitu kerinduan untuk berkomunikasi aspek connected antara stakeholder). Dan sudah saya bentuk lembaga kajian lingkungan dan planning yaitu SEED (Strategic Empowering for Environmental and Development), yang berkantor di tepi Danau Rawapening yang elok. Masih banyak kekurangan yang harus segera kami perbaiki, dengan niat yang tulus dan kesungguhan hati, kami yakin dalam 2-3 tahu kedepan, visi akan terealisasi. From Nothing to Happening, semoga.  **ANDY        

Tue, 5 Jun 2012 @09:26

Copyright © 2014 PCD TECH · All Rights Reserved