RSS Feed
Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

Artikel Terbaru
Komentar Terbaru

WELCOME

PARIWISATA
image

GO JATENG 2013

INFO REDAKSI
image

Pimred Koran Suara Rakyat

ANDI TRIS SN


Silahkan Hubungi Kami
Kategori
Arsip
MITRA
image

LBH LINDU AJI

SAIKI JAM

HOBBY

SINGOTORO JEEP CLUB

Gubernur Ngurusi "Amplop" Wartawan, No Amplop No Cry

image

SEMARANG,KSR.COM _Rencana ketegasan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dalam menghapus amplop bagi wartawan patut diacungi jempol.
    Banyak kalangan yang mendukung sikap yang diambil Gubernur baru Jateng ini tapi tak sedikit pula yang keberatan dengan kebijakan tersebut.  Namun, kebijakan itu baru sebatas di lingkungan Biro Humas Pemerintah Provinsi. Praktek suap di kalangan jurnalis masih subur di sejumlah kabupaten/kota di Jawa Tengah.
    Misalnya saja di Kota Tegal, tradisi bagi-bagi amplop bagi wartawan juga masih langgeng. Meski anggaran Humas Pemkot Tegal pada 2014 turun sekitar Rp 40 juta, Kabag Humas Markus Wahyu Priyono memastikan tidak ada pengurangan jatah bagi wartawan. “Tetap masih ada,” kata Markus.        
    Dalam APBD 2014, Humas Pemkot Tegal dapat anggaran sekitar Rp 900 juta ungkapnya.
    Dalam Pasal 6 Kode Etik Jurnalis secara tegas menyebutkan, "Wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap".     Pengertian suap adalah segala pemberian dalam bentuk uang, benda atau fasilitas dari pihak lain yang mempengaruhi independensi media.
    Dari pemberian amplop ini, ditakutkan berdampak pada lunturnya independensi dan sikap kritis jurnalis. Wartawan penerima amplop cenderung mendukung kepentingan pihak pemberi amplop bahkan menjadi corong atau alat propaganda mereka sehingga pemberitaan menjadi bias dan media kehilangan kredibilitas.
    Lain lagi dengan tegal , yang ini adalah tanggapan Bupati Pekalongan, “Kita semua berteman. Tidak amplop-mengamplop,” kata Bupati Pekalongan, Amat Antono, kepada rekan-rekan wartawan. Bagian Humas Pemkab Pekalongan memang sering membagikan amplop saat mengundang wartawan dalam sejumlah kegiatan.
    Seperti halnya saat Bupati mengajak belasan wartawan untuk meninjau wilayah langganan rob dan perkebunan kentang, 28-29 September, pegawai humas tampak membagi-bagikan amplop. Wartawan yang menerima amplop itu diminta membubuhkan tanda tangan pada daftar hadir.
    “Kalau tidak salah dapat Rp 150 ribu. Saya agak lupa,” kata seorang wartawan media cetak di Pekalongan. Menurut Bupati Amat, pembagian amplop itu bukan upaya menyuap wartawan. Sebab, sejak awal ia sudah mewanti-wanti agar wartawan tetap menulis sesuai fakta di lapangan.
    Namun lain lagi di semarang, tak sedikit yang masih merasa dianak tirikan oleh pemerintah provinsi atau bahkan dipandang sebelah mata. Seperti halnya saat acara Jumpa Pers dengan par Pemred dan Wartawan di Pemrov Jateng beberapa waktu lalu, banyak rekan-rekan dari media mingguan yang sebenarnya penasaran ingin tahu acara yang akan dibahas di forum tersebut.
    Namun mereka terpaksa harus gigit jari karena tidak bisa masuk acara dengan alasan tidak sesuai dengan daftar. Kemudian seorang rekan wartawan mencoba SMS kepada Gubernur Ganjar Pranowo tentang keluhan mereka.
    “Maaf bagaimana sikap Bapak Gubernur, tentang Agus Utomo Ka Humas Prov. Jateng yang terkesan diskriminasi dengan teman-teman wartawan online,cetak mingguan yang tidak bisa masuk , padahal kami sangat memerlukan informasi yang akan kami angkat sebagai bahan berita, bukan dalam acara jumpa pers kami bertujuan untuk mencari “amplop”, tapi mencari bahan berita untuk media kami.  demikian isi sms yang dikirimkan  namun belum dapat tanggapan.
    Bicara masalah amplop, seorang rekan wartawan  mingguan mengomentari, “bahwa amplop tidak akan hilang di permukaan bumi ini, padahal fakta dilapangan yang banyak menerima amplop malah jurnalis dari media besar (harian_red), kita yang sebenarnya ingin mendapat informasi saja sering di anak tirikan, apa karena kita dari media kecil”, ungkapnya datar.
    Salah satu staf humas di Diknas Jateng berinisial AL yang kita konfirmasi lewat ponselnya, membenarkan jika dirinya bila ada jumpa pers selalu mengutamakan media harian yang sudah mapan dan selalu memberikan “amplop” yang bervariasi jumlahnya.
    Jadi buat teman-teman jurnalis sejateng, monggo bersiaplah dan bernyanyi "No Amplop No Cry" .**VIN/AN

Sat, 28 Dec 2013 @15:24

Copyright © 2017 PCD TECH · All Rights Reserved