RSS Feed
Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

Artikel Terbaru
Komentar Terbaru

WELCOME

PARIWISATA
image

GO JATENG 2013

INFO REDAKSI
image

Pimred Koran Suara Rakyat

ANDI TRIS SN


Silahkan Hubungi Kami
Kategori
Arsip
MITRA
image

LBH LINDU AJI

SAIKI JAM

HOBBY

SINGOTORO JEEP CLUB

Modernisasi Pertanian Perkuat Ketahanan Pangan

image

 SEMARANG,KSR.COM_Sejalandengan kebijakan Pemerintah Pusat, pembangunan bidang pertanian di Jawa Tengah diarahkan untuk mencapai empat sukses pembangunan pertanian. Yakni, swasembada pangan berkelanjutan, peningkatan diversifikasi pangan, peningkatan nilai tambah, daya saing, dan ekspor, serta peningkatan kesejahteraan petani.

Gubernur Jawa Tengah, H Bibit Waluyo, menjelaskan, swasembada pangan berkelanjutan diarahkan dengan prioritas program mempertahankan swasembada yang sudah dicapai. Misalnya, swasembada beras, dan akan terus memacu produksi komoditas pertanian dalam arti luas lainnya. Seperti, jagung, kedelai, gula, dan daging sapi, agar tercapai swasembada.

Khusus untuk peningkatan padi, menjadi prioritas Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Apalagi, Jawa Tengah juga menjadi penyangga pangan terbesar di Indonesia. Bukan hanya menjaga ketersediaan pangan bagi warga Jawa Tengah, namun, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga harus mendukung pencapaian target 10 juta ton beras nasional pada 2014.

Optimalisasi pengelolaan lahan pertanian, menjadi kunci sukses dalam pemenuhan kebutuhan pangan. Untuk dapat mencapai hasil yang optimal, pengelolaan serentak dengan menggunakan pola modernisasi pertanian, harus dilakukan. Dengan cara semacam itu, serangan hama, terutama hama wereng batang coklat (WBC) dapat diminimalisasi. Selain itu, petani juga mendapat nilai tambah yang besar. Produktivitas menjadi tinggi, efisien, beban ongkos petani rendah, dan nilai tukar petani akan meningkat.

 Penggunaan peralatan modern, sangat diperlukan. Modernisasi bukan berarti menghilangkan konsep tradisional pengelolaan pertanian, tetapi dengan menerapkan teknologi pertanian agar hasilnya lebih baik dan lebih banyak. Contohnya, untuk menemukan bibit unggul padi, harus ada penelitian dan penyilangan benih padi, jadi nanti dihasilkan bibit padi yang cepat panen dengan hasil yang lebih banyak dan tahan hama.

Begitu juga dengan pengolahan lahan. Produksi pertanian tidak akan efektif jika hanya mengandalkan tenaga pengolah lahan. Apalagi dengan semakin terbatasnya tenaga pengolah lahan. Dengan modernisasi pertanian, waktu yang dibutuhkan juga semakin singkat. Misalnya, pengolahan lahan/sawah dengan menggunakan hand tractor, yang bukan saja mempercepat pengolahan tanah, tapi juga lebih irit tenaga. Apalagi, populasi kerbau semakin berkurang karena disembelih untuk dikonsumsi manusia.

“Dengan lahan lestari seluas 2 juta hektare yang harus dipertahankan, tidak mungkin jika pengelolaannya terus mengandalkan tenaga manusia. Sebab, masyarakat desa sekarang semakin susah diajak mengolah tanah. Beberapa tenaga kerja, khususnya mereka yang berusia muda, memilih untuk mencari pekerjaan di kota, misalnya bekerja di pabrik, industri, dan menjadi pembantu rumah tangga. Hal tersebut berdampak pada masih adanya lahan produktif yang belum tergarap secara optimal,” terang Bibit.

Untuk menanam padi, digunakan transplanter , dengan waktu tanam yang terhitung cepat. Satu hektare lahan dapat ditanami paling lama satu jam. Jauh lebih cepat dibandingkan penggunaan tenaga manusia yang membutuhkan waktu tiga sampai empat hari untuk menanami satu hektare lahan. Modernisasi peralatan juga telah dilakukan untuk memanen padi. Seperti, penggunaan combine harvester , yang dapat memotong padi jauh lebih cepat dibandingkan dengan cara dibabat manual. Dengan mesin tersebut, satu hektare lahan bisa dipanen dalam waktu dua jam. Sementara, dengan cara manual (dibabat) butuh waktu hingga tiga hari. Penggunaan mesin itu juga dapat mencegah kerusakan padi menjadi lebih baik, yaitu hanya 0,97 persen, dibanding menggunakan alat pemotongan manual, seperti ani-ani atau sabit.

Dalam menghadapi musim tanam 2013 ini, pemerintah provinsi telah menyiapkan sejumlah peralatan pertanian modern, yang dapat digunakan masyarakat secara bergantian. Antara lain, 27.069 traktor roda dua, 29.744 pompa air, 112 APPO, 82 power weder , 41 transplanter , 8 reaper , 41 paddy muwer , 3.735 power threser , 291 drayer , 11.231 huller , 9.808 poliser , dan 61 combine harvester . Tidak hanya itu, sebanyak 373.726,80 kilogram pestisida juga telah disediakan di tujuh brigade proteksi. Yakni, di BPTPH, Laboratorium Semarang, Pati, Sukoharjo, Temanggung, Banyumas, dan Pemalang. Brigade tanam yang telah disiapkan di seluruh wilayah, juga dioptimalkan untuk membantu petani.

Tidak hanya persiapan dari pemerintah provinsi, para petani pun harus terus menerapkan Sapta Usaha Tani secara terpadu. Mulai dari pemilihan bibit, pengelolaan tanah dengan cara bercocok tanam yang baik, pengairan, pemupukan yang tepat, pemberantasan dan pengendalian hama terpadu, penanganan panen dan pasca panen, serta pemasaran.

Dalam penggunaan bibit, gunakanlah bibit unggul yang bersertifikat. Seperti, Inpari 13, Ciherang, Mikongga, IR 64, dan Padi Gogo Situbagendit. Referensi jenis padi ini agar dikembangkan disesuaikan dengan kontur tanah di daerah.

Pengelolaan tanah diharapkan tidak padi-pari-pantun, tapi diselingi dengan palawija. Hal itu dilakukan agar unsur hara tanah tidak rusak, sekaligus memutus rantai perkembangbiakan hama. Irigasi harus ditata dengan benar, terutama pada sawah tadah hujan. Buat saluran-saluran irigasi dengan memberdayakan sungai atau sumur pantek atau membuat embung-embung. Saluran irigasi yang sederhana juga dilengkapi dengan pintu air, jadi kalau debit airnya tinggi tidak menyebabkan sawah ter-genang sehingga merusak tanaman.

Penggunaan pupuk berimbang pun mesti diperhatikan. Penggunaan pupuk organik dapat lebih ditingkatkan. Apalagi, pangsa pasar produk pertanian organik terus meningkat dengan harga jual yang juga tinggi. Awasi penggunaan insektisida, jangan sampai berlebihan. Gunakan pengendali organisme alami, seperti, dengan menanami pematang-pematang sawah dan jalan antar desa dengan orok-orok untuk mencegah serangan walang sangit, atau menggunakan Tyto alba (burung hantu) untuk mengendalikan hama tikus. Usai panen, perhatikan gudang penyimpanan padi, sehingga hasil panen yang disimpan tidak cepat rusak.

 Mina Padi

Agar pembangunan sektor pertanian dapat lebih optimal, khususnya persawahan lahan basah dan m eningkatk an pendapatan petani, dilakukan upaya percepatan melalui diversifikasi usaha pertanian. Salah satunya, dengan sistem klaster yang memadukan antara penanaman padi di lahan basah, sekaligus memelihara ikan pada lahan padi yang sama, atau sering disebut sebagai mina padi. Saat ini telah dicanangkan program Gerakan Nasional Sejuta Hektar e Mina Padi (Gentanadi) , dengan target dan sasaran areal sawah sejuta he ktare , dan produksi sejuta ton hingga akhir 2013.

Jenis ikan yang dapat dipelihara pada sistem tersebut bermacam-macam. Seperti, ikan mas, nila, mujair, karper, tawes, lele, dan sebagainya. Ikan mas dan karper merupakan jenis ikan yang paling baik dipelihara di sawah, karena ikan tersebut dapat tumbuh dengan baik meskipun di air yang dangkal, serta lebih tahan terhadap matahari. Tidak hanya itu, udang pun bisa dibudidayakan di sela-sela tanaman padi. Sistem tanam yang sering diterapkan pada mina padi, adalah sistem jajar legowo, dengan menanam padi di sekitar pematang. Dengan begitu, tidak berpengaruh terhadap luas lahan, dan bisa diterapkan di lahan yang sempit.

Konsep klaster seperti inilah yang perlu digalakkan, jadi tidak hanya meningkatkan produksi beras, tapi juga meningkatkan budi daya perikanan darat. Petani yang punya sawah tidak bisa mengelola budi daya ikan, bisa bekerjasama dengan petani budi daya ikan. Jadi ada sharing atau kerjasama dengan memanfaatkan lahan yang sama dan tentunya ada kesepakatan bagi hasil, sehingga sama-sama diuntungkan dan bermanfaat.

Di Jawa Tengah, sistem mina padi sudah dilakukan di sejumlah wilayah. Hingga 2011 luas lahan untuk minapadi di Jawa Tengah baru mencapai 1.054 hektar e, dengan produksi ikan sebanyak 2.255 ton. Tapi, potensi lahan budi daya sawah (mina padi) di provinsi ini, mencapai 383.262 hektare, dengan luas sawah yang diusahakan 3.003,2 hektare. Nilai produksinya melebihi Rp 526,414 juta.

Salah satunya upaya mina padi, dilakukan Kelompok Tani Sri Rahayu, Desa Mertasari, Kecamatan Purwanegara, Kabupaten Banjarnegara, dengan budi daya terpadu udang galah dan padi (ugadi), yang dapat meningkatkan produktivitas lahan sawah.

Tanpa harus memperluas lahan sawah, budi daya udang galah dengan padi dapat meningkatkan pendapatan. Karena selain tidak mengurangi hasil padi, juga mendapatkan keuntungan dari budi daya udang galah yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Selain itu, kotoran udang galah yang mengandung berbagai unsur hara, dapat menyuburkan tanah. Biaya pemupukan pun bisa dikurangi. Keuntungan yang diperoleh untuk pemberdayaan udang galah di lahan pertanian seluas 1.000 meter2, mencapai lebih dari Rp 6 juta.

Pengembangan mina padi juga dilakukan di Dusun Krajan, Desa Soropadan, Kecamatan Pringsurat, Kabupaten Temanggung. Di tempat tersebut, sedikitnya 141 hektare lahan ditanami padi dengan dipadukan budi daya ikan nila merah. Hasilnya, sangat menguntungkan. Saat hanya ditanami padi, keuntungan yang diraih sebesar Rp 3,3 juta per hektare. Namun, setelah menerapkan cara mina padi, keuntungan yang diperoleh mencapai Rp 6,6 juta per hektare, atau bertambah 100 persen. 

Mengingat mina padi memberikan hasil yang sangat menguntungkan petani, dengan nilai tambah dari produksi udang atau ikan, maka penanaman padi secara jajar legawa dengan sistem mina padi diharapkan dapat dikembangkan di seluruh wilayah Jawa Tengah, yang memiliki ketercukupan air. Apalagi, ditunjang dengan ilmu dan teknologi yang memadai, serta pasar yang terbuka luas.

  Diversifikasi Pangan

Sukses pembangunan pertanian yang kedua, p eningkatan diversifikasi pangan, dengan optimalisasi k eanekaragaman sumber karbohidrat yang ada, untuk mengurangi ketergantungan pada beras. Keragaman budaya didorong untuk menghasilkan aneka pangan yang menarik dan bergizi seimbang.

Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) dilaksanakan melalui kegiatan optimalisasi pemanfaatan pekarangan , pengembangan pangan lokal, serta sosialisasi dan promosi penganekaragaman konsumsi pangan . Dalam hal ini, masyarakat didorong untuk memanfaatkan area di sekitar rumah untuk menanam tanaman pangan, sayuran, buah-buahan, toga (tanaman obat keluarga), maupun memelihara ternak dan ikan .

Implementasi riil nya, antara lain , diversifikasi pangan dengan mendayagunakan lahan dan pekarangan kosong, dan pengem bangan karya usaha peternakan, pertanian dan perikanan secara bersinergi. Misalnya, kegiatan peternakan dengan kandang panggung , yang dibawahnya dibuat kolam ikan . Sehingga , kotoran ternak bisa didayagunakan sebagai pakan ikan dan pupuk tanaman. Dengan demikian, selain menyediakan kebutuhan pangan dan gizi keluarga , juga berpeluang menambah pendapatan keluarga dan meningkatkan kesejahteraannya.

Di Jawa Tengah, P2KP melalui kegiatan optimalisasi pemanfaatan pekarangan sudah dilaksanakan sejak 2008 , dengan dukungan dana APBN dan APBD Provinsi Jawa Tengah. Hingga 2012, sudah 681 desa yang memanfaatkan pekarangan dalam rangka DMP, melalui dukungan dana APBN dan APBD Provinsi Jawa Tengah. Pada 2013 direncanakan terwujud 632 DMP dengan pendampingan dana APBN, dan 140 DMP dengan dana APBD Provinsi Jawa Tengah. Kegiatan yang diusahakan pada lokasi DMP desa baru, antara lain, ternak kambing sebanyak 400 ekor, pemberian 16 unit alat pengolahan pangan, dan 28 paket bibit tanaman.

Sebagai contoh, di Desa Semin, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Wonogiri, masyarakat dapat menghemat pengeluaran untuk belanja sayuran rata-rata Rp 5.000-Rp 10.000 per hari per kepala keluarga (KK). Bahkan, sebagian warga mampu menambah pemasukan dari hasil penjualan sayuran sekitar Rp 1.000 per hari. Selain itu, penggalakan konsumsi tiwul yang dilaksanakan tiap Senin dan Kamis, ternyata mampu menghemat rata-rata Rp 1,5 kilogram beras per KK per minggu, atau 486 kilogram per bulan untuk satu desa.

Tidak sebatas pada pemenuhan makanan sehari-hari, tanaman yang ada juga diolah menjadi berbagai produk, yang dapat dijual ke pasar. Misalnya, mengolah singkong menjadi tepung tapioka, tepung mocav, ceriping singkong, opak/ lempeng singkong, ceriping pisang, dan sebagainya. Selain itu, sampah organik dan kotoran hewan ternak juga diolah menjadi pupuk organik. Dengan begitu, dapat menaikkan nilai ekonomi produk.

Kalau hal tersebut bisa terus dikembangkan di seluruh Jawa Tengah, maka akan memberi kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi kerakyatan. Untuk mewujudkan itu semua, dibutuhkan sinkronisasi program dari seluruh SKPD terkait, maupun bantuan dari dunia usaha dan masyarakat. Sehingga, dapat mempercepat terwujudnya kemandirian pangan untuk mengatasi kemiskinan di masyarakat.

Selain melalui program DMP, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga melaksanakan program Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (LDPM) atau Lumbung Pangan Masyarakat (LPM). Program ini merupakan salah satu upaya mengembangkan distribusi dan meningkatkan akses pangan masyarakat.

Di Jawa Tengah, terdapat 135 LDPM yang dikembangkan oleh masyarakat. Lembaga tersebut dibentuk dari rakyat dan untuk rakyat. Masing-masing LDPM memperoleh suntikan dana dari pemerintah sebesar Rp 150 juta pada tahun pertama, yang digunakan untuk membuat gudang dan modal usaha. Pada tahun kedua, rencananya akan diberikan tambahan dana Rp 75 juta, untuk penguatan usaha.

Setelah beberapa waktu berjalan, ternyata semakin dikelola dengan baik, akan semakin banyak keuntungan yang diperoleh. Jika itu terus dilakukan, dapat mempercepat pengentasan kemiskinan dan kelaparan di Jawa Tengah. Bagaimana tidak, satu LDPM dapat mengerjakan tiga sampai empat kegiatan. Misalnya, menyosoh beras, menggiling beras, membeli gabah petani, hingga memanfaatkan bekatul atau dedak untuk pakan ternak. Jadi, tidak ada limbah yang terbuang sia-sia.

Yang lebih penting lagi, melalui LDPM, akan terbangun perilaku kegotongroyongan di antara masyarakat. Dengan begitu, menjadi senjata pamungkas dalam mengurangi kemiskinan. Tentunya, dalam pengelolaan LDPM, dibutuhkan sumber daya manusia yang mau bekerja keras, jujur, responsif dan peduli terhadap masyarakat.

  Pasar Ekspor

P eningkatan nilai tambah, daya saing, dan ekspor, dengan menumbuhkan industri hilir pertanian berbasis sumber daya lokal, merupakan sukses pembangunan pertanian ketiga . Melalui penerapan inovasi teknologi dan manajemen agrobisnis, produk-produk yang dihasilkan dapat dikembangkan, sehingga mempunyai nilai tambah dan daya saing untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Sekarang ini, produk pertanian, terutama hortikultura Jawa Tengah semakin banyak yang menembus pasar ekspor. Tidak kurang dari 20 produk hortikultura ditargetkan merajai pasaran Singapura. Yakni, baby buncis, buncis super, lobak, bawang putih, daun bawang, seledri, parsley, cabe merah, cabe hijau, cabe rawit, pakchoy, baby kailan, kol, caisim, kentang, kailan batang, sawi putih, daikon (lobak besar), sukini, dan timun jepang (kiuri).

Ekspor hortikultura pada 2010 mencapai 888,57 ton, dengan produk antara lain, salak, melati, buncis perancis, lobak, bawang daun, dan seledri. Pada 2011, jumlah ekspor produk hortikultura meningkan menjadi 1.142,81 ton, dengan produk salak, melon, buncis perancis, lobak, bawang daun, buncis baby, cabe hijau, cabe merah, melati, serta buncis super. Jumlah tersebut termasuk leatherleaf yang juga meningkat dari 314.450 tangkai pada 2010, menjadi 343.000 tangkai pada 2011.

Sedikitnya 14 gapoktan dari 12 kabupaten, disiapkan untuk menghasilkan produk unggulan dengan kualitas ekspor. Antara lain, dari Kabupaten Semarang, Karanganyar, Boyolali, Magelang, Temanggung, Wonosobo, Banjarnegara, Tegal, Pemalang, Kebumen, Wonogiri, dan Batang. Ekspor hortikultura tidak hanya dilakukan dengan menggunakan pesawat, tapi juga menggunakan container dengan kapasitas yang jauh lebih besar.

Melihat prospek pengembangan hortikultura yang sangat menjanjikan, pemerintah provinsi terus berupaya mengoordinir, menyediakan fasilitas, serta mencarikan eksportir, agar petani tidak kesulitan menjual produknya. Ware house yang dilengkapi dengan dua unit cool storage disiapkan di Kawasan Pusat Pelayanan Agribisnis Petani BW Agro Center Soropadan, untuk kegiatan sortasi, grading, packaging , dan storage produk buah dan sayuran yang akan diekspor. Jadi, petani hortikultura tidak perlu ragu untuk bertanam dan bertani hortikultura.

“Namun, khusus untuk beras, saya minta agar beras digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri, bukan dieksport. Produksi beras di Jawa Tengah memberikan kontribusi kepada pemenuhan kebutuhan beras nasional. Apalagi tahun 2014 nanti kita ditargetkan untuk mendukung program nasional surplus beras 10 juta ton,” tegas Gubernur.

Sukses pembangunan pertanian yang keempat, p eningkatan kesejahteraan petani, yang d ilakukan melalui revitalisasi penyuluhan dan kelembagaan petani. Antara lain, pembinaan petani melalui kelompok tani dan gabungan kelompok tani, yang diarahkan agar tercipta petani yang kreatif, inovatif, mandiri, mampu memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta sumber daya lokal, untuk menghasilkan produk pertanian berdaya saing tinggi. Pada saat yang sama, pemerintah mendorong terwujudnya sistem kemitraan usaha dan perdagangan komoditas pertanian yang sehat, jujur, dan berkeadilan. Dengan meningkatnya kuantitas dan kualitas produksi pertanian , diharapkan akan mendorong pening k atan Nilai Tukar Petani (NTP ).

Hingga kini, ketahanan pangan Jawa Tengah sangat kuat, bahkan terkuat di Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat dari peta ketahanan pangan kabupaten/kota di Jawa Tengah semuanya berwarna hijau tua yang berarti sangat tahan. Sangat kuatnya ketahanan pangan Jawa Tengah, antara lain ditopang produksi beras surplus meningkat setiap tahun, dan sampai akhir Desember 2012 surplus beras Jawa Tengah mencapai 2,98 juta ton, mampu memberi kontribusi memperkuat ketahanan pangan nasional hampir 15 persen. Peningkatan kuantitas dan kualitas produksi beras, juga ikut mendorong peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP), yang hingga akhir 2012 ini, telah mencapai 106,37persen.**ROHUM

 

Fri, 28 Jun 2013 @10:30

Copyright © 2017 PCD TECH · All Rights Reserved