RSS Feed
Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

Artikel Terbaru
Komentar Terbaru

MITRA
image

ANGKRINGAN NAMBAH TERUS SEMARANG

WELCOME

MITRA
image

Angkringan Nambah Terus 

Jl. Gajah Raya No.128c Semarang

PARIWISATA
image

GO JATENG GAYENG 2018

INFO REDAKSI
image

Pimred Koran Suara Rakyat

ANDI TRIS SN


Silahkan Hubungi Kami
Kategori
Arsip
MITRA
image

LBH LINDU AJI 

HOBY
image

Komunitas Mobil HBC

SAIKI JAM

NELAYAN TUDING PERUSAHAAN BUANG LIMBAH SEMBARANGAN

Dugaan sementara masih belum jelas, akan tetapi perusahaan yang melakukan pengerukan areal adalah PT. Golden Hope Nusantara, tetapi masih saja belum bisa dipastikan limbah yang dibuang tersebut apakah kepunyaan Golden Hope atau malah perusahaan minyak AKR

Kalsel Kotabaru, KSR.com - Nelayan suku Bajau khususnya mereka yang mendiami kawasan pemukiman Desa Rampa Lama Kecamatan Pulau Laut Utara Kotabaru mengeluhkan limbah perusahaan berupa lumpur keras yang hampir menyerupai batu yang sengaja dibuang kelaut, dengan adanya aktifitas begitu membuat mereka geram terhadap kapal yang mengangkut limbah tersebut.
Ketika ditemui beberapa waktu lalu dikediamannya oleh wartawan koran ini, salah satu nelayan Rampa Lama, Subliansyah mengatakan, bahwa aktifitas pembuangan limbah itu sudah berlangsung berbulan-bulan, apalagi mereka membuangnya didaerah tangkapan nelayan atau jalur mereka dalam mencari ikan ataupun udang. Sangat ia sayangkan dan itu jelas sangat merugikan nelayan.
“Selama berbulan-bulan lamanya hampir setiap hari saya melihat mereka menggunakan kapal tugboat membawa muatan lumpur keras seperti batu yang dibuang kelaut begitu saja, tapi kami belum begitu menyadari dari apa yang mereka lakukan itu setelah beberapa minggu terakhir tangkapan kami kurang juga beberapa dari kami tidak sedikit menemui hasil tangkapan di jaring nelayan hanya berupa lumpur keras yang seperti batu, dengan begitu kami sebagai nelayan sekarang dalam mencari ikan atau pun udang disekitar perairan terdekat sangatlah susah,” ungkapnya.
Diduga oleh nelayan, aktifitas tersebut dilakukan oleh perusahaan yang berada disekitar kawasan pinggir laut yang sedang melakukan kegiatan pengerukan tanah lumpur bercampur batu, “Memang kami hanya menduga-duga, kalau tidak perusahaan Golden Hope atau AKR, soalnya saya dan beberapa nelayan selalu saja melihat kapal pengangkut limbah itu bersandar dipelabuhan AKR Stagen, entah itu kepunyaannya atau Golden Hope, kami belum bisa memastikannya,” jelasnya.
Kalau secara kasat mata, memang tidak akan nampak mereka membuang lumpur itu, tapi kalau dilihat dengan jelas ada semacam pembuangan dibagian bawah kapal yang sengaja dibiarkan sedikit terbuka, sehingga berceceran disepanjang alur tangkapan nelayan sebelum sampai ditujuannya yaitu didaerah Tanjung Pemancingan yang hanya berjarak kurang lebih 15 menit ditempuh melalui jalur laut dari kawasan pemukiman Desa Rampa.
Hal senada juga disampaikan oleh nelayan lainnya, biasa disapa dengan panggilan Paman Nadir, ketika kemarin rabu (2 8/11) mencoba mendatanginya ketengah laut pada siang hari saat ia melempar alat tangkapnya berupa Lampara Dasar miliknya, diakuinya semenjak pembuangan limbah ada, saat itu pula ia dan beberapa nelayan lainnya sangat kesusahan mencari tangkapan yang seperti biasanya, “Biasanya saya paling sedikit 5 ember bisa memperoleh tangkapan, akan tetapi sekarang bisa dilihat mencari 1 ember saja sulit apalagi sampai 2 ember,” katanya.
Ditambahkannya lagi, biasanya ia selalu mencari tangkapan didaerah Tanjung Pemancingan dekat pelabuhan PT. Arutmin Indonesia, karena disana memang daerahnya penghasil yang bisa dibilang lumayan, ketika pembuangan limbah dibuang kedaerah itu bisa dilihat tidak ada satupun nelayan yang mencari ikan didaerah tersebut, karena perahu yang dipakai tergolong kecil terpaksa nelayan mencari diseputar perairan Desa Rampa, itupun dengan hasil seadanya saja.
“Kami berencana akan membawa persoalan ini ke DPRD untuk mecari dukungan dan solusi buat kami para masyarakat nelayan, karena kalau dibiarkan begini terus maka bisa dipastikan pendapatan kami akan terpengaruh, seandainya kami menggunakan perahu motor yang lebih besar maka bisa saja untuk mencari ikan kedaerah yang jauh tapi rata-rata dari kami hanya menggunakan perahu motor kecil saja,” tambahnya.
Pada hari kemaren rabu (2 8/11), lanjutnya, ada 4 buah perahu yang terkena lumpur batu itu, dan hasilnya pun jelas tidak seperti dengan harapan kami, “Seandainya tadi kalian datangnya lebih cepat ketengah laut, maka akan melihat jaring Lampara Dasar saya mengangkat lumpur keras sebesar kepala, bahkan beberapa hari yang lalu jaring saya sobek kurang lebih sekitar 50 cm gara-gara terkena lumpur itu, bisa dibayangkan seandainya lumpur biasa tidak akan terjadi hal itu, tapi ini sama saja batu yang dibuang kelaut,” imbunya kepada Media Kalimantan.
Pada saat mencoba menelusuri disepanjang jalur tangkapan nelayan, ditemui kapal tugboat benama Bina 208 Jakarta yang sedang membawa sejenis LCT bernama Bina 303, yang dikatakan nelayan bahwa kapal itulah yang sering membawa muatan tanah keras tersebut, bahkan bukan hanya 1 melainkan ada 2 kapal yang dilihat nelayan dengan jelas membawa muatan seperti itu.
Harapan nelayan adalah, agar pihak perusahaan bisa menyikapi hal itu dengan baik, yang jelas selama aktifitas itu tangkapan para nelayan Rampa jelas berkurang dan bisa dibilang rugi, “Bisa dibayangkan kalau alat tangkap kita terkena lumpur batu semacam itu, untuk menariknya kepermukaan bukan hanya memerlukan tenaga fisik juga pada bahan bakar yang digunakan pun pastinya boros,” tandasnya. (Herpani)

Thu, 29 Nov 2012 @16:11

Copyright © 2020 PCD TECH · All Rights Reserved